Operasi
leparaktomi, pengambilan kulit perut meluas meninggalkan
luka dan darah yang terus mengalir, Hassan yacob, doktor
farmasi membersihkan luka di perut sang nenek, lalu ia meracikan
obat kimia, Sayang datuk alias neneknya menolak penyembuh
itu karena tak alami. ia lebih memilih untuk meminum air
rebusan teripang selama seminggu. Hasilnya luka sepanjang
15 Cm itu kering, perihpun hilang
Itu membuat Hassan Yaacob, dosen Universitas Malaya, Malaysia
terheran-heran. Sembilan tahun belajar Farmakologi klinis
di Inggris tak kunjung menemukan jawaban atas fenomena itu.
Oleh karena itu, ketika tiba di Kualalumpur, ia membawa
rebusan 5 teripang ke laboratorium. Di sanalah ia membuat
percobaan.
Tiga kelompok kelinci masing-masing terdiri atas 5 ekor
disayat hingga menimbulkan luka sepanjang 10 cm. Luka sayat
pada kelompok pertama diolesi air rebusan teripang; kelompok
ke-2, yodium; kelompok ke-3, tanpa perlakuan. Air rebusan
teripang dan yodium diberikan 3 kali sehari. Dua hari berselang,
luka kelompok pertama mengering; kedua tetap basah; ke-3,
terinfeksi.
Asam
amino
Riset yang ditempuh Hassan Yaacob merupakan penelitian pertama
yang mengungkap khasiat gamat-sebutan teripang di Malaysia.
Setelah itu peneliti-peneliti lain berbondong-bondong menyingkap
tabir gamat pada 1995. Di Universitas Kebangsaan Malaysia,
misalnya, Prof Ridzwan Hashim menemukan bukti sahih, teripang
Holothuria atra, H. scabra, dan Bohadshia argus memiliki
efek antibakteri. Ketiga anggota famili Holothuriidae itu
juga terdapat di perairan Indonesia.
Dalam
riset itu Ridzwan menggunakan jasa bakteri Streptococcus
faecalis penyebab pembengkakan lapisan dalam jantung, S.
viridans perusak katup jantung, S. pneumoniae penyebab radang
paru-paru dan sinusitis akut, Staphylococcus aureus penyebab
meningitis, dan Proteus mirabilis penginfeksi luka. Total
jenderal ada 7 bakteri yang diuji pada riset itu. Para makhluk
superliliput itu terbukti terhambat pertumbuhannya setelah
diberi ekstrak teripang.
Gamat
menjadi khazanah kami untuk pengobatan alami, ujar Prof
Zaiton Hassan, peneliti dari Departemen Ilmu Pangan, Universitas
Putra Malaysia, Malaysia, ketika diwawancarai Trubus. Lebih
dari 10 penelitian dibiayai oleh pemerintah Malaysia untuk
mengeksplorasi potensi teripang sebagai penyembuh. Zaiton
bersama M. A Kaswandi dari Universitas Kebangsaan Malaysia
meneliti kandungan asam lemak teripang Stichopus chloronotus.
Penelitian selama setahun itu mengungkap 11 asam amino pada
teripang: miristat, palmitat, palmitoleat, stearat, oleat,
linoleat, arakhsidat, eicosapentaenat, behenat, erusat,
dan docosahexaenat. Asam lemak itulah yang diduga mempercepat
penyembuhan luka luar maupun dalam.
Kandungan
asam eicosapentaenat (EPA) dan asam docosahexaenat (DHA)
relatif tinggi, masing-masing 25,69% dan 3,69%. Nilai EPA
besar menandakan kecepatan teripang memperbaiki jaringan
rusak dan menghalangi pembentukan prostaglandin penyebab
radang tinggi. Sedangkan DHA, asam lemak utama pada sperma
dan otak, serta retina mata. Asupan DHA tinggi dapat menurunkan
trigliserida darah penyebab penyakit jantung. Kekurangan
DHA menyebabkan penurunan serotin otak pemicu penyakit alzeheimer
dan depresi.
Tulang
dan sendi
Li Z, Wang H dan Zhang G dari Shanghai Institute of Hematology,
Shanghai Second Medical University, China mengungkap teripang
antipenggumpalan dan pembekuan darah. Itu lantaran adanya
senyawa glikosaminoglikan. Pada konsentrasi 5 mikrogram/ml,
glukosaminoglikan mampu menyembuhkan stroke iskemik otak
dan penyakit jantung iskemik. Kinerjanya dengan menghambat
aktivitas pembekuan darah melalui penghambatan monomer fibrin
dan meningkatkan aktivitas plasmin. Plasmin, enzim pengurai
protein plasma darah yang menurunkan kekentalan darah. Itu
terjadi saat pelukaan sehingga darah membeku.
Teripang
juga memperkokoh tulang dan sendi. Kandungan kondroitin
sulfat mencegah pengeroposan sendi pembuat radang. Senyawa
itu memperbaiki dan membangun kembali tulang rawan, pembentuk
sendi yang terkikis akibat kecelakaan, benturan, dan kelebihan
bobot badan tanpa efek samping. Itu sebabnya pemerintah
Australia dan Selandia Baru mengizinkan penggunaan teripang
sebagai penyembuh radang sendi dibanding obat-obatan kimia.
Tulang
kuat karena ketersediaan kolagen dalam tubuh memadai. Menurut
Prof Dr Ridzwan Hashim teripang mengandung 86% protein yang
mudah diuraikan enzim pepsin. Dari jumlah itu sekitar 80%
berupa kolagen. Itu sebagai pengikat jaringan dalam pertumbuhan
tulang dan sendi. Dalam pertumbuhan tulang, suplemen kalsium
saja tidak cukup lantaran tulang terdiri dari kalsium fosfat
dan kolagen sebagai pengisi. Tanpa kolagen tulang menjadi
rapuh dan mudah pecah. Sebaliknya bila tanpa kalsium, tulang
akan kenyal seperti karet. Selain merawat tulang dan sendi,
kolagen bersama keratin bertanggungjawab terhadap kekenyalan
kulit.
Kandungan
kolagen tubuh berkurang sejalan dengan penuaan. Lantaran
kurang asupan protein, kulit mengeriput. Menurut Yong-Xing
dari Institute of Gerontology of Shanghai Huading Hospital,
Cina, penuaan harus diimbangi pemberian zat gizi. Tujuannya
peningkatan kemampuan menghadang infeksi sel tumor dan penurunan
kapasitas antioksidan.
Berkurangnya
antioksidan meningkatkan jumlah oksigen radikal bebas penyebab
rusaknya jaringan tubuh. Teripang, memiliki sel pembunuh
alami terhadap sel asing, tumor, dan meningkatkan superoksida
dismutase. Superoksida dismutase, antioksidan penurun radikal
bebas perusak kulit, pelindung kerusakan DNA, dan denaturasi
protein.
Anti-HIV
Peneliti di dunia terus menggali potensi teripang untuk
mengatasi penyakit maut, termasuk AIDS. Hal itu dilakukan
Elizabeth E. Gana dan Dr Florina E. Merca dari Universitas
Los Banos, Filipina. Penelitian pada akhir 2002 itu mengungkap
teripang cokelat bergenus Holothuria mengandung lektin,
protein tanpa kekebalan yang berinteraksi dengan gula, tetapi
tidak menyatu menjadi produk baru. Senyawa itu mirip jakalin,
lektin tumbuhan penghambat perkembangbiakan sel HIV. Ia
bekerja dengan cara menggumpalkan sel jahat yang masuk dan
menghancurkannya.
Bagaimana dengan riset teripang di Indonesia? Penelitian
kandungan biokimia teripang di Indonesia belum berkembang,
ujar Drs Prapto Dharsono MSc, ahli echinodermata Pusat Penelitian
dan Pengembangan Oseanologi. Sebab, belum banyak yang mengolah
teripang menjadi obat. Padahal, Indonesia termasuk negara
terbanyak jumlah dan ragam teripang. Karena itulah penelitian
obat alami berbahan teripang dari bahari Indonesia harus
dimulai dari sekarang. (Vina Fitriani)